Minggu, 29 Juli 2012

Kursus BIA Paroki St. Barbara


“Jangan samakan kegiatan Bina Iman Anak (BIA) dengan proses belajar-mengajar di sekolah, kegiatan BIA dimaksudkan untuk memberikan teladan hidup yang sesuai dengan iman Katolik kepada anak-anak”, demikian penjelasan pendamping kursus, Bpk. Cahyo dari Komkat Padang, dihadapan peserta Kursus Bina Iman Anak.


Kursus ini berlangsung di Paroki St. Barbara Sawahlunto, tanggal 18 – 21 Juli 2012 yang lalu, dengan jumlah peserta 21 orang. Ikut dalam kursus ini peserta dari Stasi Solok (7 orang), Sungai Tambang (5 orang), Sungai Rumbai (3 orang), Muaro Sijunjung (1 orang), dan stasi pusat sendiri; Stasi Sawahlunto (5 orang). Mereka yang hadir ini sebahagian besar sudah pernah menjadi pendamping kegiatan BIA di stasi mereka masing-masing.

Dalam sambutannya, P. Philips Rusihan Sakti, Pr., selaku pastor paroki, memaklumi kalau peserta lebih banyak diikuti oleh ibu-ibu dan OMK putri. Tanpa bermaksud membedakan siapa yang lebih bertanggung jawab dalam membesarkan dan mendidik anak, namun memang diakui, umunya, ibu-ibu lebih menaruh perhatian dan dekat dengan anak. Pada kesempatan lain, peserta juga mendapatkan motivasi dan inspirasi; berupa penyadaran dan semangat, akan pentingnya kursus ini.

Pada hari pertama kursus, peserta mendapat gambaran tentang potret kegiatan BIA yang terjadi selama ini. Tampil, pertama, memberikan pandangannya Ibu Asi Paulina Nainggolan dari Stasi Sawahlunto, kemudian dilanjutkan oleh Putri Veronica Turnip dari Stasi Solok. Selama ini, kita selaku Pembina BIA kesulitan mendapat buku panduan, belum ada team, padahal jumlah anak-anak BIA kita cukup banyak, diperkirakan ada 20 – 30 orang anak di setiap stasi, belum lagi soal kurangnya perhatian orangtua terhadap kegiatan ini, demikian kira-kira gambaran yang diberikan.

Kursus yang berlangsung selama 4 hari ini, selain mendapatkan materi dari pendamping, peserta kursus juga diminta mempraktekkan materi yang didapat dihadapan peserta yang lain. Agar tidak membosankan, kegiatan lebih banyak diisi dengan diskusi dan kerja kelompok. Hal ini dimaksudkan untuk mendapat masukan, menggali potensi diri, sehingga pada saat kembali ke stasi, peserta bisa terjun langsung melayani kegiatan BIA di stasi mereka masing-masing.

Rini Valensi Sihotang, salah seorang OMK putri peserta kursus mengatakan bahwa ia baru kali ini datang ke Sawahlunto dan baru kali ini pula mengikuti kegiatan di Paroki. Awal berangkat dari Sungai Rumbai, ada perasaan cemas dan takut, tapi setelah tiba di Sawahlunto dan beberapa hari mengikuti kursus merasa mendapat semangat baru untuk melayani anak-anak di stasinya. Di sini semua peserta sama-sama belajar, sama-sama memperhatikan, dan seperti satu keluarga.

Dihari terakhir kursus, diadakan pleno. Peserta dari setiap stasi menyampaikan rencana kedepan tentang kegiatan BIA di stasinya masing-masing. Permasalahan kegiatan BIA di stasi yang ada selama ini, begitu juga persoalan yang (mungkin) akan muncul, didiskusikan bersama. Pastor Paroki dan Bpk. Cahyo; selaku pendamping kursus, juga hadir dalam pleno tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komisi Kepemudaan Keuskupan Padang

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites