Selasa, 23 April 2013

Michael Wilzon Sitinjak: Belajar dari Perbedaan


Sejak kecil Michael Wilzon Sitinjak (26) telah menuntut ilmu di lembaga pendidikan non Katolik hingga sekarang. Lelaki kelahiran Pekanbaru 12 Januari 1987 ini telah menyelesaikan pendidikannya di SMA NEGERI 9 Pekanbaru dan akan melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Riau. Di tengah usahanya menggapai ilmu inilah ia merasa bahwa menjadi seorang katolik di tengha perbedaan agama adalah tidak mudah. Bagi mahasiswa Psikologi ini, dia harus menerima pelecehan yang dilontarkan oleh teman-teman sekolah serta di kucilkan.

Sewaktu masih SD, pria yang mempunyai hobi Olahraga, Photografer dan juga designer ini sering diejek oleh teman-teman. Bahkan, tanpa terkecuali guru SD-nya dulu sewaktu mengajar menyinggung kepercayaan Michel, dan mengatakan bahwa agama yang baik dan menjajamin masuk surga adalah agama guru tersebut. Tentu saja waktu itu Michel merasa takut dan merasa dikucilkan. Seringkali Michel bertanya dalam hati, “Emangnya salah ya menjadi orang Katolik?”.
Semakin ia beranjak dewasa, anggota OMK Santa Maria Fatima Pekanbaru ini mengerti bahwa tidak hanya umat Katolik saja yang dilecehkan, direndahkan, dan dianggap tidak penting tetapi juga kaum minoritas lainnya di daerah yang agamanya mayoritas. “Ngeri saya membayangkannya, segitu besarkah rasa benci manusia terhadap sesamanya, karena alasan agama. Agama harusnya menjadikan manusia saling mengasihi, saling menghargai. Kalau ada satu agama yang mengajarkan kebencian, maka saya akan berani bilang agama tersebut sesat. Tapi rasa-rasanya tidak ada”, ujarnya.
Namun, baginya kejadian-kejadian (sindiran-sindiran) yang ia alami selama hidupnya itu justru membuatnya tetap teguh pada Iman-Nya. Dengan tetap berdoa dan dekat pada Tuhan ia semakin merasa minoritas itu hilang. Menurut lelaki yang memiliki moto hidup Kasih Kristus untuk tetap melayani sesama ini, tidak hanya di SD saja, sampai saat ini pun ia juga pernah menerima ejekan meskipun sesekali dan dalam bentuk candaan atau gurauan saja. Meski demikian ejekan itu tidak seradikal waktu SD dan kecil dulu.

Pria yang tidak hanya kuliah tetapi juga bekerja sebagai staf teknis & administrasi di salah satu Dinas Pemerintahan Kementerian Pekerjaan Umum ini berharap bahwa masalah minoritas kiranya dapat diselesaikan dengan saling terbuka dan saling menghargai antar sesama pemeluk agama. Begitu pula di daerah lainnya di dunia, banyak manusia-manusia yang mampu menghargai perbedaan. “Agama harusnya menjadikan manusia saling mengasihi, saling menghargai karna tidak ada suatu agama pun di dunia ini yang Tuhan-nya mengajarkan kebencian” ujar Pengurus inti bendahara 2 pada OMK Santa Maria Fatima Pekanbaru ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites