Rabu, 24 April 2013

Sejauh Mana Imanku Membawa kearah yang lebih baik

By : Fr. Yosavat Yuli Prasetyo*
 
Iman adalah tanggapan manusia atas Wahyu Ilahi berupa penyerahan diri secara total, tanpa terpaksa “sukarela”. Dalam iman, manusia menyadari dan mengakui dengan sepenuh hati bahwa Allah menyapa dan mememanggilnya. Kita akan lebih mudah mengenal siapa Allah yang kita imani dalam pengalaman dan rasa kekaguman akan ciptaan. Beriman berarti menyerahkan diri, dan dalam penyerahan iman, kita dihantar untuk semakin mencintai Allah.
           
Iman menyangkut seluruh hidup manusia, yakni kehendak baik dan hati. Iman juga membutuhkan rasionalitas/akal, supaya kita dapat mempertanggungjawabkan apa yang kita imani. Kita harus mampu melihat situasi dan kondisi, jangan mengambil sikap yang salah terhadap pikiran dan pandangan kita. Maka kita perlu kritis dalam menghidupi iman kita. Manusia tidak hanya cukup beriman saja, ia harus mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia imani.
           Menarik apabila kita membaca surat Yakobus 3:14: “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati”. Iman pasti tampak dalam sikap dan perbuatan yang kita lakukan. Tanpa perbuatan (bukti yang kongkret) kita tidak bisa mengatakan bahwa saya beriman atau orang itu beriman. Sebab iman seperti sebuah kebenaran yang akan menampakkan diri dalam realitas sehari-hari. Bisa saja seseorang rajin berdoa atau pergi ke gereja, tetapi dalam kehidupan kesehariannya bisa jadi orang tersebut tidak mampu menjadi cahaya atau teladan bagi orang lain. Kita dituntut untuk rendah hati dan tidak mementingkan kepentingan diri sendiri (akulah yang paling utama dari orang lain). Iman harus diaplikasikan sehingga dapat menuntun kita kepada suatu kebenaran sejati. Bukti dari iman tersebut adalah cinta kepada Allah dan sesama.
Kita tidak mampu membendung kemajuan zaman. Pada zaman modern seperti sekarang ini, banyak sekali kita jumpai bahwa seseorang tidak mampu mempertahankan imannya. Mungkin ada diantara kita yang dengan sadar (tau dan mau) menyangkal iman kita kepada Kristus demi mendapatkan harta dan jabatan. Begitu juga degan kaum muda, ada juga dari mereka yang rela meninggalkan agamanya (katolik) dari pada tidak mendapatkan jodoh. Kaum muda mungkin mempunyai argumentasi untuk berusaha membenarkan pendapatnya. Daripada saya tidak menikah, lebih baik saya menikah dengan pasangan saya yang beragama lain. Orang yang seperti ini menjadi gambaran sebagai pribadi yang tidak mau memanggul salibnya.

Sebagai pengikut Kristus kita ditantang oleh arus zaman berupa kemajuan teknologi seperti sekarang ini. Banyak sekali tawaran duniawi yang dapat melemahkan iman kita. Jika iman kita tidak kokoh maka, godaan dan tantangan dapat membuat seseorang jatuh. Orang yang sungguh beriman akan mampu memaknai segala pengalaman hidupnya (baik dan buruk) sehingga membuatnya tegar dan semakin dewasa dalam iman. Beriman dapat digambarkan seperti orang yang sedang mengadakan perjalanan untuk mencapai tujuan. Pastilah ada banyak godaan, tantangan dan tawaran yang dapat membelokkan imannya. Tanpa berusaha setia dengan tujuan tersebut, kita akan mudah terbelokan dan jatuh pada pencobaan.

Adalah Frater Keuskupan Tanjungkarang, sedang belajar Filsafat Pada 
STFT  St. Yohanes Pematangsiantar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites